Back to Blog
Transportasi Published 18 Mei 2026

Bangkitan Tarikan Kota Bandung

Kota Bandung sebagai salah satu metropolitan terbesar di Indonesia menghadapi tantangan mobilitas yang semakin kompleks. Pertumbuhan jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan pertambahan infrastruktur jalan mengakibatkan kemacetan yang hampir terjadi setiap hari, terutama pada jam sibuk.

Dalam kajian ini, dilakukan analisis bangkitan dan tarikan pergerakan di 30 kecamatan Kota Bandung menggunakan metode regresi linier berganda. Data yang digunakan meliputi data sekunder dari BPS, Dinas Perhubungan, dan survei lapangan.

Metodologi

  • Zonasi: Membagi wilayah Kota Bandung menjadi 30 zona berdasarkan kecamatan
  • Data: Volume lalu lintas, tata guna lahan, kepadatan penduduk, jumlah kendaraan
  • Analisis: Regresi linier berganda untuk memodelkan hubungan antara bangkitan/tarikan dengan variabel independen
  • Tools: Python (Pandas, NumPy, Scikit-learn), QGIS untuk visualisasi spasial

Hasil

Hasil analisis menunjukkan bahwa Kecamatan Bandung Wetan, Cicendo, dan Sumur Bandung memiliki bangkitan pergerakan tertinggi, sementara Kecamatan Bojongloa Kidul dan Astanaanyar memiliki tarikan tertinggi. Faktor utama yang mempengaruhi adalah kepadatan penduduk dan luas area komersial.

Model regresi yang dihasilkan memiliki nilai R² sebesar 0.87, menunjukkan bahwa variabel independen yang digunakan mampu menjelaskan 87% variasi bangkitan pergerakan di Kota Bandung.

Rekomendasi

  • Pengembangan transportasi massal di koridor dengan bangkitan tinggi
  • Manajemen tata guna lahan untuk mengurangi kesenjangan antara bangkitan dan tarikan
  • Kebijakan parkir dan pembatasan kendaraan di pusat kota
Read on Blogspot Back to Blog